Mampir Yukkk... ^_^

Minggu, 06 Januari 2013

Perlawanan Ulama Melawan Kolonial



A.    Perlawanan Pangeran Diponegoro
Terbaginya Keraton Mataram menjadi kerajaan (1755) bukan saja pertanda dari kemerosotan kerajaan yang diwariskan oleh Sultan Agung, tetapi juga merupakan  krisi dalam kesadaran kulturan Jawa. Apalagi kemudian sebagian wilayah Surakarta harus diserahkan kepada Pangeran Sambernyawa untuk menjadi Mangkunegara. Sedangkan keratin Yogyakarta dipaksa Inggris untuk menyerahkan wilayahnya untuk menjadi Pakualam. Semua peristiwa itu menunjukkan bahwa kerajaan Mataram sduah tidak memiliki kekuatan politik dan militer lagi.
Abad ke 18-19 msyarakat masih belum juga menemukan jalan keluar untuk mengatasi penetrasi kekuasaan politik dan ekonomi Belanda. Para ulama dengan pesantren mereka seakan-akan menjauhkan dan dijauhkan dari hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama. Bahkan, keratin harus tunduk kepada desakan Belanda. Campur tangan kolonial terhadap kehidupan Keaton semakin tinggi, hingga seolah memarjinalkan ulama dari kehidupan keratin.
Dalam situasi ini lahirlah Antawirya pada tanggal 11 November 1785, putra dari Sultan Hamengkubuwono III dengan Raden Ayu Mangkarawati. Antawirya yang kemudian bergelar Pangeran Diponegoro, dari kecil diasuh oleh Ratu Ageng di Tegalreja sambil mendalami ilmu al-Qur’an dan Hadist. Meskipun berasal dari keluarga keratin, namun is jarang datang kesana kecuali pada acara Grebeg Mulud dan Sungkeman hari Raya Idul Fitri kepada ayahnya Sultan Hamengkubuwono III.
Semenjak meninggal ayahnya, tahta jatuh kepada Pangeran Jarot (13 tahun) dan kemudian wafat digantikan oleh Pangeran Menol (3 tahun). Berhubung kedua pangeran masih muda, maka pucuk pimpinan di pegang oleh Patih Danureja IV yang dekat dengan Belanda, sehingga banyak terjadi pergantian kultur keraton dengan kebudayaan Belanda. Berbagai usaha sudah dilakukan P.Diponegoro untuk menyelamatkan keratin namun selalu gagal.
Pada suatu hari Residen A.H.Smissaert dengan Patin Danureja IV merencanakan membuat jalan raya, yang kebetulan melintasi tanah milik P.Diponegoro. hal tersebut ditentang oleh beliau. Lalu diajukan surat penolakan kepada residen, namun ditolak. Kemudian dilakukanlah penyerangan terhadap pangeran Diponegoro. Pemanggilan pihak colonial terhadap beliau tidak dipenuhi, malahan utusan keratin Sultan Mangkubumi justru malah bergabung dengan P.Diponegoro melawan Belanda.
Tanggal 20 juli 1825 P.Diponegoro mengumumkan secara resmi perang terbuka melawan Belanda, beliau berhasil menjebol benteng Tegalreja dan melanjutkan perjalanan ke Bukit Selarong. Masing-masing pengikutnya diberi tugas masing-masing mempertahankan posisi mereka. Dari Bukit selarong ia menunjukkan kepada pasukannya suatu cahaya api kemrahan tanda dibakarnya keratin Tegalreja dan mesjidnya oleh Belanda. Pada peperangan tersebut, P.Diponegoro menanamkan tujuan yang ditanamakan kepada pasukannya, yaitu :
Pertama, mencapai cita-cita luhur mendirikan masyarakat yang bersendikan agama islam.
Kedua, mengembalikan keluhuran adat Jawa, yang bersih dari pengaruh barat.
Tekad yang luhur tersebut memantapkan hati para pengikutnya, tidak hanya itu masyarakat juga bersuka rela untuk menyediakan dirinya menjadi prajurit. Hingga Belandapun kewalahan menghadapi serangan dari pasukan P.Diponegoro ini. Berbagai upaya dilakukan untuk mengalahkan pasukan ini, namun selalu gagal. Kemudian belanda menjalankan siasat liciknya dengan dalih ingin melakukan perundingan perdamaian tanggal 28 Maret 1830, diundanglah P.Diponegoro ke Kantor Residen di magelang. Pihak Diponegoro meminta kebebasan untuk merdeka dan bebas mendirikan kedaulatan, namun ditolak. Ketika itu dilaksanakan rencana liciknya dengan menangkap P.Diponegoro dan memindahkannya ke Semarang. Sampai akhirnya beliau di benteng Ujung Pandang, Makasar. Dan menghabiskan sisa hidupnya disana. Selama dalam pengasingan, beliau berhasil menulis Babad Diponegoro yang merupakan penggalan kisah dari awal berdirinya kerajaan Mataram hingga perjuangan beliau mengalahkan Belanda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar