Mampir Yukkk... ^_^

Minggu, 31 Maret 2013

Latar Belakang Bangkitnya Nasionalisme Indonesia



1.     Latar Belakang Bangkitnya Nasionalisme di Indonesia yaitu :
Sejak abad 16, Indonesia bangsa" eropa seperti bangsa Portugis, Spayol, Belanda, dan Inggris. dalam perkembangannya mereka tidak hanya ingin berdagang tetapi juga ingin menguasai indonesia. sejak itu terjadi perjuangan utk mengusir penjajah yg seperti dilakukan oleh Sultan ageng tirtayasa, Sultang agung, Sultan hasanudin, dll. walaupun dlm waktu yg lama Belanda dpt menaklukkan Indonesia.
A.   faktor Internal
Terdapat beberapa factor internal yang menyebabkan menggelegarnya semangat bangsa Indonesia untuk segera lepas dari penjajahan Belanda yang sudah berabad-abad lamanya, yaitu ;
a.    Kejayaan Bangsa Indonesia sebelum Kedatangan Bangsa Barat
Sebelum kedatangan bangsa Barat, di wilayah Nusantara sudah berdiri kerajaan-kerajaan besar, seperti Sriwijaya, Mataram dan Majapahit. Kejayaan masa lampau itu menjadi sumber inspirasi untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan.
b.    Penderitaan Rakyat akibat Politik Drainage(Pengerukan Kekayaan)
Politik drainage itu mencapai puncaknya ketika diterapkan sistem tanam paksa yang dilanjutkan dengan system ekonomi liberal
.
c.    Adanya Diskriminasi Rasial
Diskriminasi merupakan hal menonjol yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda dalam kehidupan sosial pada awal abad ke-20. Dalam bidang pemerintahan, tidak semua jabatan tersedia bagi kaum pribumi.
d.   Munculnya Golongan Terpelajar
Pada awal ke-20, pendidikan mendapatkan perhatian yang lebih baik dari pemerintah kolonial. Hal itu sejalan dengan diterapkannya politik etis. Melalui penguasaan bahasa asing yang diajarkan di sekolah-sekolah modern, mereka dapat mempelajari berbagai ide-ide dan paham-paham baru yang berkembang di Barat, seperti ide tentang HAM, liberalisme, nasionalisme, dan demokrasi.
e.    Politik Etis
Condrad Theodore Van Deventer adalah orang  Belanda  yang bekerja di Indonesia. Pada  tahun  1899  menulis  karangan berjudul Gen Ereschul (hutang budi). Akibat  dari diberlakukannya  Undang-Undang Agraria  tahun 1870,  rakyat Indonesia makin miskin dan  menderita sedangkan Belanda memperoleh keuntungan kas yang kosong akibat perang.  Oleh sebab itu,  Condrad Theodore  Van Deventer  mendesak untuk dilaksanakan politik etika di Indonesia,  yaitu politik yang harus dilaksanakan untuk mendidik dan memakmurkan bangsa Indonesia.
Secara tidak langsung politik etis berhasil mengkristalkan rasa dendam bangsa Indonesia terhadap Belanda sejalan dengan kemajuan media, komunikasi dan transportasi. Hal yang patut dicatat dalam politik etis adalah pembentukan Volksraad atau Dewan Rakyat. Melalui Volksraad kaum intelektual pribumi yang mewakili rakyat Indonesia dipersatukan dari berbagai daerah. Dengan demikian terbukalah kerja sama dan persatuan di antara mereka untuk memikirkan cita-cita nasional bersama yakni memperjuangkan kemerdekaan rakyat Indonesia.
f.    Pengaruh Perkembangan Pendidikan Barat di Indonesia
Perkembangan sistem pendidikan pada masa Hindia Belanda tidak dapat dipisahkan dari politik etis. Ini berarti bahwa terjadinya perubahan di negeri jajahan (Indonesia) banyak dipengaruhi oleh keadaan yang terjadi di negeri Belanda. Tekanan datang dari Partai Sosial Demokrat yang di dalamnya ada van Deventer. Pada tahun 1899, Mr. Courad Theodore van Deventer melancarkan kritikan-kritikan yang tajam terhadap pemerintah penjajahan Belanda. Kritikan itu ditulis dan dimuat dalam jurnal Belanda, de Gids dengan judul Een eereschuld yang berarti hutang budi atau hutang kehormatan. Dalam tulisan tersebut dijelaskan bahwa kekosongan kas negeri Belanda telah dapat diisi kembali berkat pengorbanan orang-orang Indonesia. Oleh karena itu, Belanda telah berhutang budi kepada rakyat Indonesia. Untuk itu harus dibayar dengan peningkatan kesejahteraan melalui gagasannya yang dikenal dengan Trilogi van Deventer. Apakah kalian masih ingat dengan isi Trilogi van Deventer? Politik yang diperjuangkan dalam rangka mengadakan kesejahteraan rakyat dikenal dengan nama politik etis. Untuk mendukung pelaksanaan politik etis, pemerintah Belanda mencanangkan Politik Asosiasi dengan semboyan unifikasi. Politik Asosiasi berkaitan dengan sikap damai dan menciptakan hubungan harmonis antara Barat (Belanda) dan Timur (rakyat pribumi). Dalam bidang pendidikan, tujuan Belanda semula adalah untuk mendapatkan tenaga kerja atau pegawai murahan dan mandor-mandor yang dapat membaca dengan gaji yang murah. Untuk kepentingan tersebut Belanda mendirikan sekolah-sekolah untuk rakyat pribumi. Dengan demikian, jelaslah bahwa pelaksanaan politik etis tidak terlepas dari kepentingan pemerintah Belanda. Sistem pengajaran kolonial dibagi dalam dua jenis yaitu pengajaran pendidikan umum dan pengajaran kejuruan. Keduanya diselenggarakan untuk tingkat menengah ke atas.
g.    Pengaruh Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia
Perkembangan pendidikan di Indonesia juga banyak diwarnai oleh pendidikan yang dikelola umat Islam. Ada tiga macam jenis pendidikan Islam di Indonesia yaitu pendidikan di surau atau langgar, pesantren, dan madrasah. Walaupun dasar pendidikan dan pengajarannya berlandaskan ilmu pengetahuan agama Islam, mata pelajaran umum lainnya juga mulai disentuh. Usaha pemerintah kolonial Belanda untuk memecah belah dan Kristenisasi tidak mampu meruntuhkan moral dan iman para santri. Tokoh-tokoh pergerakan nasional dan pejuang muslim pun bermunculan dari lingkungan ini. Banyak dari mereka menjadi penggerak dan tulang punggung perjuangan kemerdekaan. Rakyat Indonesia yang mayoritas adalah kaum muslim ternyata merupakan salah satu unsur penting untuk menumbuhkan semangat nasionalisme Indonesia. Para pemimpin nasional yang bercorak Islam akan sangat mudah untuk memobilisasi kekuatan Islam dalam membangun kekuatan bangsa.
h.    Pengaruh Perkembangan Pendidikan Kebangsaan di Indonesia
Berkembangnya sistem pendidikan Barat melahirkan golongan terpelajar. Adanya diskriminasi dalam pendidikan kolonial dan tidak adanya kesempatan bagi penduduk pribumi untuk mengenyam pendidikan, mendorong kaum terpelajar untuk mendirikan sekolah untuk kaum pribumi. Sekolah ini juga dikenal sebagai sekolah kebangsaan sebab bertujuan untuk menanamkan rasa nasionalisme di kalangan rakyat dan mencetak generasi penerus yang terpelajar dan sadar akan nasib bangsanya. Selain itu sekolah tersebut terbuka bagi semua masyarakat pribumi dan tidak membedakan dari kalangan mana pun. Tokoh-tokoh pribumi yang mendirikan sekolah kebangsaan antara lain Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa, Douwes Dekker mendirikan Ksatrian School, dan Moh. Syafei mendirikan perguruan Indonesische Nederlandsche School Kayu Tanam (INS Kayu Tanam). Berikut ini akan dibahas sekolah-sekolah kebangsaan tersebut. Taman Siswa didirikan oleh Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara pada tanggal 3 Juli 1922. Ksatrian Institut atau Ksatrian School didirikan di Bandung pada tahun 1924 oleh Douwes Dekker atau Danudirjo Setyabudi.
i.     Dampak Pendidikan Luar Negeri
Selain tindakan yang keji dan kotor dari pemerintah kolonial, ternyata pendidikan yang dialami oleh putra-putra Indonesia di luar negeri membangkitkan semangat baru untuk mengusir penjajah. Dalam hal ini para pelajar di luar negeri atau yang telah berhasil kembali dari luar negeri mengobarkan semangat rasa tidak puas rakyat terhadap pemerintah kolonial. Secara serentak kaum terpelajar tersebut menerima tanggung jawab menjadi pemimpin organisator semangat nasionalisme rakyat Indonesia.
j.     Islam  Sebagai Pemersatu
Mayoritas rakyat Indonesia adalah kaum Muslim. Dengan jumlah yang demikian besar, ternyata Islam merupakan satu unsur penting untuk menumbuhkan semangat nasionalisme Indonesia. Karena bagaimanapun para pemimpin nasional akan sangat mudah untuk memobilisasikan kekuatan Islam sebagai alasan dalam menghimpun kekuatan.
k.    Bahasa melayu sebagai pemersatu
Di samping mayoritas bangsa Indonesia beragama Islam, Indonesia pun memiliki bahasa pergaulan umum (lingua franca) yakni bahasa Melayu. Dalam sejarah perkembangannya bahasa Melayu berubah menjadi bahasa persatuan nasional Indonesia, setelah dikeramatkan dalam trilogi Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Dengan posisi sebagai bahasa pergaulan, bahasa Melayu menjadi sarana penting untuk mensosialisasikan gagasan dan semangat kebangsaan dan nasionalisme ke seluruh pelosok Indonesia.
l.      Perkembangan komunikasi dan media
semakin lancar sehingga rakyat semakin cepat mengetahui keadaan politik sesungguhnya yang terjadi di Belanda pada satu pihak dan dipihak lain, rakyat dalam waktu singkat dapat mengetahui sikap-sikap yang kurang adil dan kejam dari pejabat dan pegawai Belanda.
m.   Dominasi Ekonomi Kaum
Kekesalan pedagang pribumi ditujukan langsung terhadap kaum pedagang keturunan nonpribumi, khususnya kaum pedagang Cina. Kristalisasi kekesalan kaum pedagang pribumi mencapai titik kulminasi ketika keturunan Cina mendirikan perguruannya sendiri yakni Tionghoa Hwee Kwan pada tahun 1901. Peristiwa itu mendorong persatuan yang kokoh di antara sesama pedagang pribumi untuk menghadapi secara bersama pengaruh dari pedagang yang bukan pribumi, khususnya kaum pedagang keturunan Cina.
n.    Istilah Indonesia sebagai Identitas Nasional
Istilah ‘Indonesia‘ berasal dari kata India (bahasa Latin untuk Hindia) dan kata nesos (bahasa Yunani untuk kepulauan), sehingga kata Indonesia berarti Kepulauan Hindia. Istilah Indonesia, Indonesisch dan Indonesier makin tersebar luas pemakaiannya setelah banyak dipakai oleh kalangan ilmuwan seperti G.R. Logan, Adolf Bastian, van Vollen Hoven, Snouck Hurgronje, dan lain-lain.

B.    Factor Eksternal
Lahir dan berkembangnya nasionalisme Indonesia juga didorong oleh faktor-faktor ekstern, antara lain berikut ini :
a)    Kemenangan Jepang terhadap Rusia (1904-1905)
Kemenangan Jepang dalam Perang Rusia-Jepang telah berhasil mengguncangkan dunia. Kemenangan Jepang tersebut berhasil menggugah kesadaran bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk melawan penjajahan bangsa-bangsa kulit putih.
b)   Kebangkitan Nasionalisme Negara-Negara Asia-Afrika
Kebangkitan nasional bangsa-bangsa Asia-Afrika memberikan dorongan kuat bagi bangsa Indonesia untuk bangkit melawan penindasan pemerintahan kolonial. Revolusi Tiongkok (1911) dan pementukan partai Kuomintang oleh Sun Yan Set yang berhasil menjadikan Cina sebagai negara mereka pada tahun (1912).
c)    Masuknya Paham-Paham Baru
Paham-paham baru seperti liberalisme, demokrasi dan nasionalisme   muncul setelah terjadinya Revolusi Amerika dan Revolusi Perancis. Hubungan antara Asia dan Eropa menyebabkan paham-paham itu menyebar dari Eropa ke Asia, termasuk ke Indonesia.
d)   Partai Kongres India
Dalam melawan Inggris di India, kaum pergerakan nasional di India membentuk All India National Congress (Partai Kongres India), atas inisiatif seorang Inggris Allan Octavian Hume pada tahun 1885. Di bawah kepemimpinan Mahatma Gandhi, partai ini kemudian menetapkan garis perjuangan yang meliputi Swadesi, Ahimsa, Satyagraha, dan Hartal. Keempat ajaran Ghandi ini, terutama Satyagraha mengandung makna yang memberi banyak inspirasi terhadap perjuangan di Indonesia.
e)   Filipina di bawah Jose Rizal
Filipina merupakan jajahan Spanyol yang berlangsung sejak 1571 – 1898. Dalam perjalanan sejarah Filipina muncul sosok tokoh yang bernama Jose Rizal yang merintis pergerakan nasional dengan mendirikan Liga Filipina. Pada tahun 1892 Jose Rizal melakukan perlawanan bawah tanah terhadap penindasan Spanyol. Tujuan yang ingin dicapai adalah bagaimana membangkitkan nasionalisme Filipina dalam menghadapi penjajahan Spanyol. Dalam perjuangannya Jose Rizal dihukum mati pada tanggal 30 Desember 1896, setelah gagal dalam pemberontakan Katipunan. Sikap patriotisme dan nasionalisme yang ditunjukkan Jose Rizal membangkitkan semangat rela berkorban dan cinta tanah air bagi para cendekiawan di Indonesia
f)    Gerakan Nasionalisme Cina
Dinasti Manchu (Dinasti Ching) memerintah di Cina sejak tahun 1644 sampai 1912. Dinasti ini dianggap dinasti asing oleh bangsa Cina karena dinasti ini bukan keturunan bangsa Cina. Masuknya pengaruh Barat menyebabkan munculnya gerakan rakyat yang menuduh bahwa Dinasti Manchu sudah lemah dan bekerja sama dengan imperialis Barat. Oleh karena itu muncul gerakan rakyat Cina untuk menentang penguasa asing yaitu para imperialis Barat dan Dinansti Manchu yang juga dianggap penguasa asing. Munculnya gerakan nasionalisme Cina diawali dengan terjadinya pemberontakan Tai Ping (1850 – 1864) dan kemudian disusul oleh pemberontakan Boxer. Gerakan ini ternyata berimbas semangatnya di tanah air Indonesia
g)   Gerakan Turki Muda
Gerakan nasionalisme di Turki pada tahun 1908 dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasha. Gerakannya dinamakan Gerakan Turki Muda. Ia menuntut adanya pembaruan dan modernisasi di segala sektor kehidupan masyarakatnya. Gerakan Turki Muda memberikan pengaruh politis bagi pergerakan bangsa Indonesia sebab mengarah pada pembaruan-pembaruan dan modernisasi.

2.    Dinamika social pada masa pergerakan, akhir kekuasaan Hindia Belanda dan masuknya Jepang ke Indonesia !
Jawaban :
Sebelum dicanangkannya program Politik Etis, kondisi social masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan sekali. Apalagi ketika di laksanakannya program tanam paksa yang sangat merugikan masyarakat. Dimana yang harus ditanam oleh rakyat adalah kebutuhan yang dibutuhkan oleh Belanda. Semua hasil kebun itu dibeli Belanda dengan harga yang sangat murah sekali, otomatis hal itu merugikan masyarakat sendiri.
Namun, setelah dicanangkannya politik etis di Indonesia dengan diluncurkannya tiga program unggulan yaitu : pendidikan, transmigrasi dan irigasi. Melalui program inilah masyarakat memperoleh peluang untuk mengenal pendidikan dan pengetahuan, yang dahulu sangat jauh sekali dari masyarakat khususnya masyarakat pri bumi. Bahkan yang lebih parahnya lagi imbas dari hal itu menyebabakan bangsa Indonesia booh karena sebagaian besar mengalami buta huruf. Menciptakan benang pembatas antara si pintar dengan si bodoh.
Setelah diperolehnya pendidikan oleh rakyat pri bumi, kemudian lahirlah tokoh-tokoh yang mendobrak semangat nasionalisme di Indonesia. Misalnya saja, di jawa dengan berdirinya organisasi-organisasi pergerakan nasional, munculnya lembaga-lembaga pendidikan kewanitaan di sumatera dan jawa, serta munculnya lembaga-lembaga yang awalnya berorientasi pendidikan kemudian berubah kepada poilitik perjuangan kemerdekaan.
Semangat pendidikan tersebut memunculkan berbagai macam lembaga pendidikan yang menfasilitasi masyarakat untuk lebih maju. Seperti sekolah pendidikan wanita oleh Rahmah el-Yunusiyah, dewi sartika, dll. Taman siswa yang di bangun oleh Ki Hajar Dewantara. Sekolah sarekat islam oleh Tan Malaka. Kesatrian Institut oleh E.F.E. Douwes Dekker, Ruang pendidikan INS Kayutanam oleh Moh. Safei (1897-1969). Perguruan Rakyat dipimpin oleh Mr. Sunario (1928), dll.
Munculnya politikus nasionlis tersebut merupakan imbas dari salah kaprahnya pemerintahan Belanda akan untung yang mereka capai dari dilaksanakannya politik etis, awalnya mereka berharap dengan adanya politik etis tersebut akan menguntungkan mereka memepekerjakan pegawai pribumi dengan gaji yang murah. Namun, justru jadi boomerang buwat pertahanan mereka.
Setelah kaum intelektual pribumi bertumpah ruah, banyak diantara mereka yang berkedudukan di tempat-tempat pemerintahan. Berkat pendidikan yang mereka peroleh, memberikan kesempatan bersaing dengan kaum priyai untuk mendapatkan posisi strategis dalam pemerintahan. Semua itu menyebabkan terjadinya Indonesianisasi di pemerintahan Belanda. Hanya saja, semakin banyak kaum terpelajar juga terdapat efek sampingnya, persaingan mendapatkan peluang bekerja membuat mereka bersaing satu sama lainnya.
Namun, semua itu tidak berlangsung lama Indonesia bisa memanfaatkan situasi yang ada demi tercapainya tujuan kemerdekaan. Tanggal 8 maret 1942 Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang, dan bergantilah pucuk pimpinan di Indonesia dari Belanda kepada Jepang. Namun situasinya sama saja, bahkan lebih parah malahan.
Dari penjabaran berikut ini dapat dilihat gambaran pemerintahan Jepang di Indonesia. Awal pendudukannya, Jepang bertindak lunak terhadap kaum pergerakan nasional, katanya mereka memerlukan kekuatan rakyat Indonesia untuk membasmi bangsa Barat dari bumi Asia ini. Rakyat diperbolehkan mengibarkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, hal itu bertujuan untuk menarik simpati masyarakat Indonesia.
Satu hal yang sangat disayanagkan, barisan propaganda Jepang (sendenbu)I sangat aktif dalam menarik simpati rakyat. Sehingga, antara kaum pejuang terdapat dua perbedaan pendapat menilai Jepang. Golongan tua berjuang bersama Jepang  dengan cara legal, sedangkan golongan muda bergerak dengan cara illegal menyusun taktik mengusir Jepang dari Indonesia.
Jadi, apa yang dilarang oleh Belanda ternyata malah diberikan oleh Jepang. Walaupun demikian, bangsa Indonesia masih dapat memanfaatkan celah-celah dari akibat penjajahan tersebut. Dari penjajahan Jepang kita bisa memanfaatkan hasil latihan fisik (bersenjata) yang bisa digunakan untuk menyerang mereka sendiri. Artinya, kita dilatih kemiliteran oleh Jepang, tapi digunakan untuk melawan Jepang sendiri.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar