Mampir Yukkk... ^_^

Minggu, 06 Januari 2013

Antara Muhammadiyah dan Partai Amanat Nasional




A.    Sekilas mengenai Partai Amanat Nasional
Partai Amanat Nasional (PAN) adalah sebuah partai politik di Indonesia. Asas partai ini adalah "Akhlak Politik Berlandaskan Agama yang Membawa Rahmat bagi Sekalian Alam" (AD Bab II, Pasal 3 [2]). PAN didirikan pada tanggal 23 Agustus 1998 berdasarkan pengesahan Depkeh HAM No. M-20.UM.06.08 tgl. 27 Agustus 2003. Ketua Umum saat ini adalah Hatta Rajasa[1]. Ketua Majelis Pertimbangan Partai dijabat oleh Amien Rais.(Salim, 1999 : 21)
Kelahiran Partai Amanat Nasional (PAN) dibidani oleh Majelis Amanat Rakyat (MARA), salah satu organ gerakan reformasi pada era pemerintahan Soeharto, PPSK Muhamadiyah, dan Kelompok Tebet. PAN dideklarasasikan di Jakarta pada 23 Agustus 1998 oleh 50 tokoh nasional, di antaranya mantan Ketua umum Muhammadiyah Prof. Dr. H. Amien Rais, , Goenawan Mohammad, Abdillah Toha, Dr. Rizal Ramli, Dr. Albert Hasibuan, Toety Heraty, Prof. Dr. Emil Salim, Drs. Faisal Basri, M.A., A.M. Fatwa, Zoemrotin, Alvin Lie Ling Piao, dan lainnya.
Sebelumnya pada pertemuan tanggal 5–6 Agustus 1998 di Bogor, mereka sepakat membentuk Partai Amanat Bangsa (PAB) yang kemudian berubah nama menjadi Partai Amanat Nasional (PAN). Banyak yang berasumsi bahwa Partai Amanat Nasional merupakan partainya orang Muhammadiyah, dikarenakan sebagian besar pendiri partai ini merupakan kadernya ormas Muhammadiyah.   
39pan.jpg
j.jpgPAN bertujuan menjunjung tinggi dan menegakkan kedaulatan rakyat, keadilan, kemajuan material dan spiritual. Cita-cita partai berakar pada moral agama, kemanusiaan, dan kemajemukan. Selebihnya PAN menganut prinsip nonsektarian dan nondiskriminatif. Untuk terwujudnya Indonesia baru, PAN pernah melontarkan gagasan wacana dialog bentuk negara federasi sebagai jawaban atas ancaman disintegrasi. Titik sentral dialog adalah keadilan dalam mengelola sumber daya sehingga rakyat seluruh Indonesia dapat benar-benar merasakan sebagai warga bangsa
B. Sekilas tentang Muhammadiyah
Muhammadiyah adalah sebuah organisasi Islam yang besar di Indonesia. Nama organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad SAW, sehingga Muhammadiyah juga dapat dikenal sebagai orang-orang yang menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW.(Harun, 1986 : 1)
Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan sudah ada di nusantara ini jauh sebelum Indonesia merdeka. Tujuan utama Muhammadiyah adalah mengembalikan seluruh penyimpangan yang terjadi dalam proses dakwah. Penyimpangan ini sering menyebabkan ajaran Islam bercampur-baur dengan kebiasaan di daerah tertentu dengan alasan adaptasi. (Zar, 2000 : 1)
Gerakan Muhammadiyah berciri semangat membangun tata sosial dan pendidikan masyarakat yang lebih maju dan terdidik. Menampilkan ajaran Islam bukan sekadar agama yang bersifat pribadi dan statis, tetapi dinamis dan berkedudukan sebagai sistem kehidupan manusia dalam segala aspeknya. Akan tetapi, ia juga menampilkan kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang ekstrem.
Dalam pembentukannya, Muhammadiyah banyak merefleksikan kepada perintah-perintah Al Quran, diantaranya surat Ali Imran ayat 104 yang berbunyi: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Ayat tersebut, menurut para tokoh Muhammadiyah, mengandung isyarat untuk bergeraknya umat dalam menjalankan dakwah Islam secara teorganisasi, umat yang bergerak, yang juga mengandung penegasan tentang hidup berorganisasi. Maka dalam butir ke-6 Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah dinyatakan, melancarkan amal-usaha dan perjuangan dengan ketertiban organisasi, yang mengandung makna pentingnya organisasi sebagai alat gerakan yang niscaya.
C. Hubungan Partai Amanat Nasional dengan Ormas Muhammadiyah
Asumsi yang mengatakan bahwa Partai Amanat Nasional merupakan partainya orang Muhammadiyah tidaklah sekedar asumsi belaka. Kita lihat saja, umumnya pendiri PAN dahulunya rata-rata kader Muhammadiyah. PAN pusat misalnya, hingga ketua umumnya pun merupakan rintisan kader muhammadiyah yakni Bapak Amien Rais. Selain itu, banyak lagi kader lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu persatu. Dari sana, terlihat gamblang bahwa awalnya pengurus yang ada dalam tubuh partai tersebut merupakan kader-kader dari Muhammadiyah. Namun, hal itu hanya bertahan sementara karena kita lihat saat ini kebanyakan pengurus PAN itu sendiri tidak lagi kader-kader dari Muhammadiyah.
Setelah penulis lakukan beberapapengamatan dari buku serta interview dengan saudara Febri Elbi Saputra dan kakanda Ari Prima yang merupakan ketua Pimpinan daerah Muhammadiyah kota Bengkulu dan kader Muhammadiyah Kota Padang mengenai alasan tersebut berpendapat bahwa :
a.     Muhammadiyah tidak pernah punya partai politik.
Alasannya, muhammadiyah merupakan sebuah instansi social yang bergerak demi kemaslahatan ummat bukan untuk kepentingan politik.
b.    Muhammadiyah tidak pernah melarang kadernya untuk berpolitik aktif dalam partai, namun itu atas nama individu bukan organisasi.(Rais, 1985 : 23-25) Dapat kita katakan bahwa kader muhammadiyah bebas memilih partai mana yang akan di masukinya, sehingga saat ini jarang kader Muhammadiyah yang masih aktif di PAN, dikarenakan kader Muhammadiyah banyak yang memilih aktif di partai politik selain dari PAN.
c.     Pada pemilu ’99 Muhammadiyah mendukung PAN sebagai partai yang banyak diisi oleh kader-kadernya dikarenakan itu bentuk dukungan yang dilakukan kepada Amien Rais sebagai ketua umum Muhammadiyah yang mencalonkan diri sebagai calon presiden kala itu. Setelah kekalahan Amien Rais dalam pemilihan presiden tersebut, maka pada Mukhtamar Muhammadiyah berikutnya diumumkan lagi bahwa Muhammadiyah kembali pada perspektif awal bahwasanya Muhammadiyah tidak boleh lagi terlibat aktif dalam partai politik. Setelah itu, Muhammadiyah resmi tidak terlibat lagi dalam partai politik PAN. Hanya saja, PAN meletakkan Amien Rais selaku Mantan ketua umum Muhammadiyah sebagai Pembina PAN, makanya orang-orang mengklaim bahwa PAN merupakan partainya orang Muhammadiyah.
Itulah beberapa alasan yang menyebabkan Partai Amanat Nasional sepi kader-kader Muhammadiyah.




Daftar Rujukan

Zar, sirajuddin, MUHAMMADIYAH DI INDONESIA 1959-1966, Padang, IAIN IB PRESS : 2000
Rais Amien, Pendidikan Muhammadiyah dan Perubahan Sosial, Yokyakarta, PLP2M : 1985
Harun Lukman, Muhammadiyah dan asas Pancasila, Jakarta, Pustaka panji Mas : 1986
Salim Arskal, Partai Islam dan Relasi Agama-negara, Jakarta, Pusat Penelitian IAIN : 1999






TUGAS
Sinkronisasi PAN dan Muhammadiyah


Diajukan untuk memenuhi tugas perkuliahan pada mata kuliah
 Pendekatan Sejarah Politik





  
Oleh:






Nilma Yola                 : 110 173

Dosen Bidang studi :

Muhammad Ilham Fadli S.sos M.hum



JURUSAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM (B)
FAKULTAS ADAB
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
IMAM BONJOL PADANG
1433 H/ 2012 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar