Mampir Yukkk... ^_^

Sabtu, 06 April 2013

Arkeologi Islam Nusantara

1.  Gambaran Umum tentang peninggalan arkeologi Islam di Indonesia
a.  Pusat-pusat peninggalan akeologi Islam di Nusantara
Peninggalan arkeologi Islam Nusantara lebih banyak diwarnai jenis peninggalan “ideofak”. Persamaan, perbedaan dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur artefak mencerminkan proses serupa dalam system ideology dan keagamaan masyarakat. Beberapa contoh penemuan artefak yang ada di Indonesia, yaitu :
1)  Lokasi pemakaman dengan bentuk kuburan masa silam, seperti Makam Sunan Gunung Jati, Sunan Muria, Giri. Mkam itu terletak di atas bukit, makam sultan-sultan Yogyakarta di Solo di Imogiri, makam Sunan Sendang di sendangduwur. Jika tempatnya paling atas, merupakan makam orang yang paling suci. Jika bentuk nisannya tinggi berundak, biasanya menunjukkan kedudukan atau status social yang tertinggi.
2)  Nisan Aceh yang ditemukan di daerah Malaysia, Johor dan Negeri Sembilan. Makam Ibrahim (w.822 M) dan Sultan Nahrisyah (w 1428 M) di Kuta Krueng, Samudera Pasai. Menunjukkan persamaan bentuk lukisan, cara penulisan dan bahan marmer seperti makam Muhammad Inu Umar al-Kazaruni (w 1333 M) di Gujarat.
3)  Penelitian mata uang di Samudera Pasai dan Aceh, dapat memberikan petunjuk bagi penguatan data penelitian sejarah kerajaan-kerajaan pada masa pemerintahannya, disamping menunjukkan kaitannya dalam penelitian ekonomi perdagangan kerajaan-kerajaan waktu itu.
4)  Temuan keramik  seperti yang terdapat di bekas ibu kota Kesultanan Banten, Aceh, Goa menunjukkan adanya sejarah perekonomian dengan Tiongkok, Thailand, Jepang, Eropa, timur Tengah, dan lainnya.
5)  Dan daerah-daerah lainnya di Nusantara.
b.  Jenis-jenis peninggalan arkeologi Islam di Indonesia
1)  Mesjid
Merupakan tempat umat Islam berhubungan dengan Tuhan. Namun demikian, mesjid juga merupakan produk rancangan manusia, dimana struktur dan konstruksinya diadaptasikan dengan lingkungan alam dan budaya masyarakat setempat. Contoh : mesjid Gresik, dan Sendangduwur di Lamongan sangat kaya dengan ragam hias flora nya, bahkan hadir sejumlah anasir seni hias yang bercorak Hindu-Budhis, seperti makara, ragam hias ikal-mursal, gerbang bersayap dsb. Dalam Islam, masjid dianggap lebih baik jika dibuat sesederhana mungkin, terutama di bagian dalam supaya setiap orang dapat beribadah dengan khusuk. Peninggalan sejarah Islam dalam bentuk masjid, dapat kita lihat antara lain pada beberapa masjid berikut.
Biasanya masjid didirikan pada tepi barat alun-alun dekat istana. Alun-alun adalah tempat bertemunya rakyat dan rajanya. Masjid merupakan tempat bersatunya rakyat dan rajanya sebagai sesama mahkluk Illahi dengan Tuhan. Raja akan bertindak sebagai imam dalam memimpin salat.
Bentuk dan ukuran masjid bermacam-macam. Namun, yang merupakan ciri khas sebuah masjid ialah atap (kubahnya). Masjid di Indonesia umumnya atap yang bersusun, makin ke atas makin kecil, dan tingkatan yang paling atas biasanya berbentuk limas.
Jumlah atapnya selalu ganjil. Bentuk ini mengingatkan kita pada bentuk atap candi yang denahnya bujur sangkar dan selalu bersusun serta puncak stupa yang adakalanya berbentuk susunan payung-payung yang terbuka. Dengan demikian, masjid dengan bentuk seperti ini mendapat pengaruh dari Hindu-Buddha.
Beberapa di antara masjid-masjid khas Indonesia memiliki menara, tempat muadzin menyuarakan adzan dan memukul bedug. Contohnya menara Masjid Kudus yang memiliki bentuk dan struktur bangunan yang mirip dengan bale kul-kul di Pura Taman Ayun. Kul-kul memiliki fungsi yang sama dengan menara, yakni memberi informasi atau tanda kepada masyarakat mengenai berbagai hal berkaitan dengan kegiatan suci atau yang lain dengan dipukulnya kul-kul dengan irama tertentu.
Beberapa contoh mesjid peninggalan Islam di Nusantara, yaitu :
a.  Mesjid Agung Banten
b.  Mesjid Agung Yokyakarta
c.   Mesjid baiturrahman, Aceh
d.  Mesjid raya Medan
e.  Dll.

2)   Makam
Tradisi penguburan Islam tidak mengenal “bekal kubur”, penggunaan peti mati, kecuali pada peti disertakan tanak yang disentuhkan kepada jenazah. Ditambah lagi dengan hadist yang menyuruh memberikan batu nisan pada bagian kepala, melarang menembok kuburan, membuat bngunan di atas kuburan dipandang sebagai kaidah normative Islam.
Makam-makam tua peninggalan Islam di Nusantara terdiri dari beberapa tipe yakni berjirat, tak berjirat dan berjirat semu. Berdasarkan wilayah terdapat tipe Aceh, tipe Bugis-makasar, tipe Ternate-Tidore. Sedangkan dari wujud seni kaligrafinya terdapat dua ciri menonjol berikut : bukti-bukti epigrafi yang menyerap pengaruh unsure-unsur kebudayaan asing, serta bukti epigrafi dan bentuk nisan sebagai wujud kreativitas local.
Hal penting yang menarik adalah  tampilnya berbagai seni hias candi pada sejumlah makam Islam di Jawa dan Madura, makan berundak-undak seperti di Cirebon, bentuk lingga sebagai nisan di Sumatera Barat, maupun bentuk ikon nisan di makam raja-raja Sulawesi Selatan.
3)  Istana
Sama halnya dengan kerajaan yang pernah ada di Nusantara, kesultanan-kesultanan Islam pun mempunyai istana atau bangunan yang dijadikan tempat untuk memantau serta menjalankan roda pemrintahan. Istana selain dijadikan tempat tinggalnya para keluarga kerajaan juga dijadikan sebagai markas kekuatan dari kerajaan itu sendiri. Diantara, peninggalan istana-istana kesultanan islam di Nusantara, yaitu : istana Pasai di Aceh, kesultanan Demak di Jawa yang merupakan kesultanan Islam pertama di Nusantara, Kesultanan Banten di Jawa Barat, Istana Ternate dan Tidore, Istana Maimun, Istana Siak Sri Indrapura, Keraton Yogyakarta, dll
Beberapa contoh istana tersebut diantaranya :
a.  Istana Siak sri Indrapura
b.  Istana Maimun di Medan
c.   Kesultanan Banten
d.  Kerajaan Demak
e.  Kerajaan Ternate dan Tidore
f.   Kesultanan Yogyakarta dahulu
g.  Dll.

4)  Epigrafi
Epigrafi merupakan peninggalan Islam yang berbentuk prasasti, inskripsi serta benda-benda lain yang selain dari bangunan, makam, dan istana di Nusantara. Prasasti Islam tertua di Indonesia terdapat pada batu nisan Leran (Jawa) berangka tahun 575H/1082 M. Setelah menyeliki bentuk batu dan unsur geografis yang terkait dengan keberadaan batu ini, disimpulkan bahwa batu-batu ini berasal dari luar Pulau Jawa dan dunia Nusantara, yaitu suatu daerah yang dekat dengan pusat historis dunia Islam. Hal ini menunjukkan telah terjadi kontak dan hubungan antara masyarakat Nusantara dengan daerah-daerah Islam seperti Kairo dan Iran. Disamping inkripsi ini juga ditemukan Cap Lobu Tua di Barus (Sumatera). Di atasnya terdapat dua relief timbul bertulisan Allah dan Muhammad. Cap Lobu Tua ini diperkirakan berasal dari abad ke-10 atau ke-11 dari daerah luar Indonesia. Syair melayu yang terdapat di atas salah satu dari kedua batu nisan seorang putri raja di Minye Tujuh, Aceh yang berangka tahun 781 H (1380M) juga menunjukkan adanya pengaruh Arab terhadap kerajaan ini. Sekalipun tulisan-tulisan dalam prasasti ini tidak semua dapat dibaca, karena ada beberapa kata yang sulit dipahami. Namun terlihat pengaruh Bahasa Arab dalam penulisan huruf dan tata letak teksnya.
Informasi baru yang sangat menakjubkan adalah kisah tentang Hamzah Fansuri, seorang penyair melayu yang terkenal. Di Mekah, Claude Guillot dan Ludvik Kalus menemukan batu nisan di Mekah yang memuat nama Syaykh Hamza bin `abd Allah al Fansûrî, meninggal tanggal 9 Rajab 933 atau 11 april 1957. Diperkirakan nama ini adalah milik penyair sufi melayu yang dikubur di Mekah. Hamzah tidak hidup pada bagian kedua abad ke-16, namun dia telah telah hidup lebih awal. Barus, daerah asal penyair ini pada abad ke-15 telah menjadi pusat-pusat agama dan budaya alam Melayu selama periode sebelum abad ke-17 di samping Pasai dan Malaka.
 Selain itu juga terdapat relief Arab yang terukir di dinding meriam yang terdapat di Banten dan di museum militer Invaliden Bronbeek di Arnhem, Belanda ( meriam ini awalnya terdapat istana Aceh di Kota Raja yang direbut pada tahun 1874 oleh Belanda). Meriam-meriam yang terdapat di Aceh yang berasal dari Turki ini menandakan telah terjadi hubungan antara kerajaan Aceh dengan Turki semenjak abad ke-16 dan adanya pemasokan senjata dan pengiriman artileri oleh Turki ke Aceh namun bukan berasal dari pemerintah Istanbul.
Meriam-meriam ini juga tidak semuanya berasal dari Turki. Dalam meriam lain ditemukan nama nama Chingis Khan. Sehingga dapat dipastikan meriam ini berasal dari Gujarat bukan Turki.
Namun terlepas dari asal meriam ini, jelas telah ada hubungan antara Aceh, Turki dan Gujarat semenjak abad ke-16. Hubungan ini juga telah banyak menyisakan pengaruh budaya Turki terhadap Aceh . Misalnya kelembagaan para kasim, yang di seluruh Nusantara hanya terdapat di Aceh dan penyebaran teori-teori keagamaan seperti wahdah al wujud dan pengaruh syiah dalam upacara Asyura.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar