Hai Dear, wellcome to my Blog

Sabtu, 29 Agustus 2020

Perempuan dalam Ranah Jodoh dan Pendidikan Islam


             
            Mungkin ada sebagian perempuan, selalu merasa bahwa dia adalah kaum marjinal setelah laki-laki. Kenapa demikian, karena rat-rata laki-laki menganggap wanita ada dibawah mereka tingkatannya, hanya beberapa orang saja yang memuliakan wanita yang ada disampingnya.

              Padahal dalam al-Quran QS.Al-Azhab: 35, Allah sudah menjelaskan bahwasanya antara laki-laki dan perempuan itu sama, bahkan Allah tidak membedakan balasan atau pahala yang diperbuat oleh masing-masing mereka. 
              Dalam hadist yang diriwayatkan oleh an-Nasai (Ibn al-Atsir, juz XII, hal.142, no. hadist : 8974), bahwasanya dahulu ada seorang remaja mengadu pada Rasulullah, tentang ia dikawinkan tanpa seizin dirinya. Lalu Rasulullah memanggil ayahnya perempuan itu, dan menyerahkan hak pilih kepada perempuan tersebut. Dalam riwaya lain dijelaskan nama perempuan itu adalah hansa r.a.

            Tidak hanya itu, dalam hal pendidikan Rasulullah bahkan mengkhususkan hari untuk mengajar mereka, sebagaimana yang diriwayatkan dalam Kitab Ibnu al-Atsir, juz X, hal 359, nomor hadist 7340.
"Wahai Rasul, para lelaki telah jauh menguasai pelajaran darimu, bisakah kamu peruntukkan waktu khusus untuk kami perempuan, untuk mengajarkan apa yang kamu terima dari Allah?. Nabi menjawab:"Ya. berkumpullah pada hari ini dan ditempat ini". Kemudian para perempuan berkumpul ditempat yang telah ditentukan dan belajar dari Rasulullah tentang apa yang diterima dari Allah SWT.

            Kisah-kisah diatas menunjukkan bahwa beberapa ayat dan teks hadist muncul atas pertanyaan-pertanyaan yang di ucapkan oleh perempuan. Seperti dalam hal persetujuan pernikahan atau pendidikan, tentu saja hak tersebt tidak boleh sampai melampaui batas kewajaran.

Wallahu a'lam bi sawab..

Senin, 24 Agustus 2020

Dari Kerajinan Amai SEtia, hingga Kerajinan Tali Kur

              Dahulu, zaman penjajahan Belanda perempuan tidak boleh pintar. Harus dirumah saja, urus keluarga. Hingga muncullah gerakan-gerakan perlawanan dari kaum perempuan, salah satunya dari daerah Koto Gadang, Kabupaten Agam. Diprakarsai oleh Rakena Putri. Mereka mendirikan sebuah perkumpulan usaha yang diberi nama dengan Kerajinan Amai Setia, pada tahun 1911.

          Perjuangan yang mereka lakukan tidaklah mudah, bermacam rintangan dilalui oleh para perempuan masa itu. Mereka menghasilkan beragam kerajinan, kemudian dijual, hingga perempuan perempuan tersebut memiliki penghasilan meskipun tidak sekolah.

              Melihat semangat juang mereka, selaku generasi muda saat ini, saya merasa tergugah untuk tetap melanjutkan perjuangan mereka, dengan membuat beragam kerajinan menarik dari rumah. Kali ini, saya memilih kreasi macrame berbahan tali kur dan benang rajut.



          Menurut saya, perempuan harus punya kemampuan, untuk menjadi tameng bagi dirinya sendiri. Zaman sekarang, semua sudah bebas nerekspresi, dan akses juga sangat dipermudah. Tidak ada kendala lagi yang menjadi alasan untuk perempuan hanya berpangku tangan dirumah, menanti jatah uang belanja dari suami.



              Kita juga bisa menjadi pejuang tangguh, meskipun hanya dirumah saja kita bisa memperoleh penghasilan, minimal untuk memenuhi kebutuhan kita sehari hari. Saat ini, bahkan sudah banyak kelompok atau grup grup yang memberikan pelatihan kepada peremouan, yang mau berusaha untuk merubh nasib diri. Bahkan ada yang memberikan pelatihan secara gratis, apa lagi yang menjadi kendala bagi kita. Tinggal semangat yang harus kita munculkan dari diri pribadi kita untuk berani mengambil langkah untuk merubah nasib kita depan.

Persandingan Tiga Budaya, dalam Satu Lokasi

           Kalau terdengar kata "Korea", yang terbayang oleh kita adalah penampilan "oppa" ganteng nan menawan. Baik itu dalam drama ataupun music populer yang digandrungi oleh generasi muda saat ini. Bagi penikmat drama Korea, tentu ada kalanya kita punya keinginan untuk bisa berkunjung ke negara tersebut. Bisa saja dengan mempersiapkan tabungan yang lebih, agar bisa berada langsung di negara "kimchi".

          Namun, sekarang untuk melepaskan rindu kita tak perlu langsung terbang kesana, di negara kita sudah ada tempat wisata yang dibuat menyerupai suasana di Korea. Salah satunya di Harau yang sudah dikenal dari dulu sebagai lokasi wisata yang banyak dikunjungi oleh pelancong.

      Berdampingan dengan miniatur perkampungan Korea, juga ada destinasi Kampung Jepang. DIsini untuk masuk ke spot tersebut dikenakan biaya tersendiri pada masing-masing pengunjung. Jadi, sekali kunjungan kita bisa menikmati 3 spot wisata yang tersedia, yakni Rumah Gadang sarosah, Kampung Korea, juga nuansa perkampungan Jepang.


gb. google

        Disini kita juga bisa memakai pakaian adat Korea, ada petugas khusus yang menyewakan kepada pengunjug pakaian tersebut. Lengkap sudah, kita bisa berfoto ala- ala Korea memakai pakaian Korea asli.

           Namun, disisi lain penulis juga sangat menyayangkan, kehadiran destinasi wisata baru ini dapat mengurangi minat generasi muda dan masyarakat umum, akan ketertarikan pada kearifan lokal. Alangkah baiknya jika pembangunan destinasi wisata kampung Korea-Jepang ini juga diimbangi dengan penambahan destinasi kearifan lokal minangkabau, seperti pertunjukan tari-tarian, diadakan di tengah lapngan, yang akan memotivasi generasi muda untuk kembali mengembangkan kearifan lokal budaya setempat.

Minggu, 23 Agustus 2020

Senja yang Terbangun Kembali

 Hai,, followers aku..

long time no see..

Sudah 2 tahun aku tertidur di kenikmatan hembusan angin membelai kelopak mata.

Sekarang, aku kembali lagi. semoga aku bisa menghasilkan ragam tulisan yang bisa memberikan inspirasi bagi kalian.

Salam sayang, Nilma Yola ðŸ‘„


Jumat, 29 Juni 2018

Pesta pernikahan di Minangkabau (Nagari Mungo), Alek Rang Mudo

Hai guys...
dua tahun gak muncul tiba tiba postinganku langsung soal pernikahan, hehe
Namanya juga perempuan, menikah merupakan impian setiap wanita, apalagi tinggal di daerah yang masih kental adat dan budayanya, seperti aku yang berasal dari daerah Jorong Talaweh, Mungo.

Seperti daerah lainnya, disini pernikahan juga dilewakan atau dirayakan. Khusus daerahku, pernikahan itu pestanya memakai baju adat seperti tampak pada gambar di atas (info pakaian bisa search di Google yah). Ada satu tradisi disini, yang menurutku cukup unik, khususnya di daerah Payakumbuh dan Kabupaten 50 Kota. Bahwasanya, saat seorang anak pisang (anak saudara laki laki) menikah, pakaian adatnya dipakai dirumah bako (istilah keluarga ayah). Setelah selesai berpakaian "adat", anak pisang akan diarak dari rumah bako menuju rumah tempat diadakan perhelatan.




Nah, kebayangkan gimana susahnya pengantin perempuan beejalan dengan menggunakan sepatu hak tinggi ?
Nanti, setelah sampai dirumah mempelai perempuan, orang tua atau keluarga perempuan dari pengantin wanita akan menyambut kedatangan marapulai dan membimbingnya naik ke pelaminan, katanya sebagai wujud keluarga perempuan menerima kedatangan anggota baru dalam keluarga.

Gb. Sumber dokumen pribadi yah


Selasa, 19 Januari 2016

New Zealand Indonesia itu kampungku

Beberapa waktu belakangan ini, media dihebohkan dengan berita adanya sebuah lokasi wisata baru yang indah di daerahku, tepatnya di Padang Mengatas, Kenagarian Mungo. Jika berangkat dari pusat kota Payakumbuh, terletak di sebelah kanan setelas puskesmas Pakan Sabtu, Mungo.


Benar, daerah tersebut merupakan peternakan hijau dengan sapi pilihan yang dikembangkan dan diawasi oleh pemerintah.

Tempat ini mulai terkenal sejak kedatangan presiden RI Bapak Jokowi, dan lambat laun berkembanglah menjadi sebuah tempat wisata yang ramai dikunjungi masyarakat. Ada yang hanya ingin memenuhi rasa penasaran saja, dan ada juga yang bermaksud untuk menikmati pemandangan alam alami yang terdapat disana.

Namun, sangat disayangkan kebiasaan warga yang masih belum berubah, tempat yang semula asri berubah menjadi kubangan sampah. Kawat berduri yang menjadi pagar pembatas antara sapi ternak dengan para wisatawan dirusak hanya ingin sekedar berfoto selfie di dekat sapi. Akhirnya pemerintah dan petugas setempat menutup lokasi peternakan untuk kalangan umum. Hanya di buka untuk wisatawan dari dinas atau instansi tertentu. Untuk meminimalisir kerusakan dan kerugian akibat ulah tangan manusia.

Senin, 15 September 2014

Tradisi Malamang di Minangkabau




Malamang artinya memasak lemang. Lemang adalah penganan yang berasal dari bahan ketan, kemudian dimasukkan kedalam bambu yang sudah berlapis daun pisang muda.
Tradisi ini dapat ditemui hampir di seluruh wilayah Minangkabau baik di daerah darek (darat), seperti Solok, Bukitinggi, Payakumbuh, maupun di daerah pesisir pantai ; Padang, Pariaman dan Painan. Entah siapa yang mengawali, ternyata lemang ini bisa juga kita temui di negara Semenanjung jenis penganan ini.
Di Ranah Minang  tradisi Malamang ini, biasanya dilakukan secara bergotong royong, tidak dilakukan oleh pribadi untuk kepentingan pribadi, melainkan sebagai bagian dari kebiasaan yang dilakukan secara bersama oleh sekelompok masyarakat atau kerabat. Praktek pelaksanaan tradisi malamang ini, dilaksanakan untuk kepentingan tertentu, yaitu :
* Beberapa hari menjelang datangnya bulan Ramadhan.
* Pada hari kedua belas Rabi’ul Awam sebagai menu pada Acara Maulud Nabi,
* Pada saat acara perhelatan /acara selamatan.
Lemang – lemang yang dibuat untuk kepentingan acara diatas, dihidangkan kepada tamu (atau siapa saja) yang datang pada kegiatan itu. Lamang ini hanya sekedar kudapan atau penganan belaka.
Ada yang menghidangkannya pada saat menerima tamu yang berkunjung untuk silaturahmi untuk menyambut datangnya Ramadhan sebagai event yang penting dalam acara saling bermaaf - maafan, termasuk pada saat Hari Raya. Bisa juga dihidangkan ketika sebuah keluarga mengundang warga untuk membaca doa selamat / perhelatan. Tingkat penghidangan lemang sebagi menu kudapan dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu – seperti halnya rendang sebagai menu utama dalam ragam menu hidangan.
Wilayah Pariaman dan sekitarnya melaksanakan tradisi ” malamang” pada saat acara Maulud Nabi. Biasanya dilakukan pada hari kedua belas Rabiul Awal. Sementara itu, di sebagian masyarakat Minangkabau seperti di Solok, tradisi malamang juga dilaksanakan pada saat memperingati hari kematian. Utamanya pada peringatan empat belas hari kematian, empat puluh hari kematian atau seratus hari kematian. Tujuannya tidak jauh berbeda dengan yang lain, yaitu untuk menjamu tamu.
Cara memasaknya :
Ketan yang sudah direndam dengan santan, dimasukkan kedalam bambu yang tahan pembakaran api. Bersihkan daun pisang yang sudah dilayukan. Fungsi daun pisang sebagai lapisan dalam bambu seruas yang telah dipersiapkan, selanjutnya dimasukan beras ketan yang sudah diaduk dengan santan kental serta garam.
Bambu dibakar dalam waktu tertentu, hingga ketan yang ada didalam bambu itu akan masak itu. Yang sulit itu, mematok takaran santan dengan garam serta beras ketan pada satu ruas bambu itu. Begitu pula dengan pengapiannya. Takaran ketan yang dimasukkan kedalam bambu memerlukan keahlian dan keterampilan, agar ketan itu tidak menjadi terlalu lembek atau malahan kekurangan santan. Secara awam, dapat kita perkirakan dengan mengumpamakan memasak ketupat ketan, yang takarannya adalah 1/2 dari ruang atau ruas ketupat.
Meskipun lemang dihidangkan sebagai menu kudapan bukan sebagai menu utama, namun lemang ini akan terasa nikmat bila ditemani tapai ketan hitam. Bahkan ada yang memakannya bersama rendang.