Hai Dear, wellcome to my Blog

Jumat, 29 Juni 2018

Pesta pernikahan di Minangkabau (Nagari Mungo), Alek Rang Mudo

Hai guys...
dua tahun gak muncul tiba tiba postinganku langsung soal pernikahan, hehe
Namanya juga perempuan, menikah merupakan impian setiap wanita, apalagi tinggal di daerah yang masih kental adat dan budayanya, seperti aku yang berasal dari daerah Jorong Talaweh, Mungo.

Seperti daerah lainnya, disini pernikahan juga dilewakan atau dirayakan. Khusus daerahku, pernikahan itu pestanya memakai baju adat seperti tampak pada gambar di atas (info pakaian bisa search di Google yah). Ada satu tradisi disini, yang menurutku cukup unik, khususnya di daerah Payakumbuh dan Kabupaten 50 Kota. Bahwasanya, saat seorang anak pisang (anak saudara laki laki) menikah, pakaian adatnya dipakai dirumah bako (istilah keluarga ayah). Setelah selesai berpakaian "adat", anak pisang akan diarak dari rumah bako menuju rumah tempat diadakan perhelatan.




Nah, kebayangkan gimana susahnya pengantin perempuan beejalan dengan menggunakan sepatu hak tinggi ?
Nanti, setelah sampai dirumah mempelai perempuan, orang tua atau keluarga perempuan dari pengantin wanita akan menyambut kedatangan marapulai dan membimbingnya naik ke pelaminan, katanya sebagai wujud keluarga perempuan menerima kedatangan anggota baru dalam keluarga.

Gb. Sumber dokumen pribadi yah


Selasa, 19 Januari 2016

New Zealand Indonesia itu kampungku

Beberapa waktu belakangan ini, media dihebohkan dengan berita adanya sebuah lokasi wisata baru yang indah di daerahku, tepatnya di Padang Mengatas, Kenagarian Mungo. Jika berangkat dari pusat kota Payakumbuh, terletak di sebelah kanan setelas puskesmas Pakan Sabtu, Mungo.


Benar, daerah tersebut merupakan peternakan hijau dengan sapi pilihan yang dikembangkan dan diawasi oleh pemerintah.

Tempat ini mulai terkenal sejak kedatangan presiden RI Bapak Jokowi, dan lambat laun berkembanglah menjadi sebuah tempat wisata yang ramai dikunjungi masyarakat. Ada yang hanya ingin memenuhi rasa penasaran saja, dan ada juga yang bermaksud untuk menikmati pemandangan alam alami yang terdapat disana.

Namun, sangat disayangkan kebiasaan warga yang masih belum berubah, tempat yang semula asri berubah menjadi kubangan sampah. Kawat berduri yang menjadi pagar pembatas antara sapi ternak dengan para wisatawan dirusak hanya ingin sekedar berfoto selfie di dekat sapi. Akhirnya pemerintah dan petugas setempat menutup lokasi peternakan untuk kalangan umum. Hanya di buka untuk wisatawan dari dinas atau instansi tertentu. Untuk meminimalisir kerusakan dan kerugian akibat ulah tangan manusia.

Senin, 15 September 2014

Tradisi Malamang di Minangkabau




Malamang artinya memasak lemang. Lemang adalah penganan yang berasal dari bahan ketan, kemudian dimasukkan kedalam bambu yang sudah berlapis daun pisang muda.
Tradisi ini dapat ditemui hampir di seluruh wilayah Minangkabau baik di daerah darek (darat), seperti Solok, Bukitinggi, Payakumbuh, maupun di daerah pesisir pantai ; Padang, Pariaman dan Painan. Entah siapa yang mengawali, ternyata lemang ini bisa juga kita temui di negara Semenanjung jenis penganan ini.
Di Ranah Minang  tradisi Malamang ini, biasanya dilakukan secara bergotong royong, tidak dilakukan oleh pribadi untuk kepentingan pribadi, melainkan sebagai bagian dari kebiasaan yang dilakukan secara bersama oleh sekelompok masyarakat atau kerabat. Praktek pelaksanaan tradisi malamang ini, dilaksanakan untuk kepentingan tertentu, yaitu :
* Beberapa hari menjelang datangnya bulan Ramadhan.
* Pada hari kedua belas Rabi’ul Awam sebagai menu pada Acara Maulud Nabi,
* Pada saat acara perhelatan /acara selamatan.
Lemang – lemang yang dibuat untuk kepentingan acara diatas, dihidangkan kepada tamu (atau siapa saja) yang datang pada kegiatan itu. Lamang ini hanya sekedar kudapan atau penganan belaka.
Ada yang menghidangkannya pada saat menerima tamu yang berkunjung untuk silaturahmi untuk menyambut datangnya Ramadhan sebagai event yang penting dalam acara saling bermaaf - maafan, termasuk pada saat Hari Raya. Bisa juga dihidangkan ketika sebuah keluarga mengundang warga untuk membaca doa selamat / perhelatan. Tingkat penghidangan lemang sebagi menu kudapan dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu – seperti halnya rendang sebagai menu utama dalam ragam menu hidangan.
Wilayah Pariaman dan sekitarnya melaksanakan tradisi ” malamang” pada saat acara Maulud Nabi. Biasanya dilakukan pada hari kedua belas Rabiul Awal. Sementara itu, di sebagian masyarakat Minangkabau seperti di Solok, tradisi malamang juga dilaksanakan pada saat memperingati hari kematian. Utamanya pada peringatan empat belas hari kematian, empat puluh hari kematian atau seratus hari kematian. Tujuannya tidak jauh berbeda dengan yang lain, yaitu untuk menjamu tamu.
Cara memasaknya :
Ketan yang sudah direndam dengan santan, dimasukkan kedalam bambu yang tahan pembakaran api. Bersihkan daun pisang yang sudah dilayukan. Fungsi daun pisang sebagai lapisan dalam bambu seruas yang telah dipersiapkan, selanjutnya dimasukan beras ketan yang sudah diaduk dengan santan kental serta garam.
Bambu dibakar dalam waktu tertentu, hingga ketan yang ada didalam bambu itu akan masak itu. Yang sulit itu, mematok takaran santan dengan garam serta beras ketan pada satu ruas bambu itu. Begitu pula dengan pengapiannya. Takaran ketan yang dimasukkan kedalam bambu memerlukan keahlian dan keterampilan, agar ketan itu tidak menjadi terlalu lembek atau malahan kekurangan santan. Secara awam, dapat kita perkirakan dengan mengumpamakan memasak ketupat ketan, yang takarannya adalah 1/2 dari ruang atau ruas ketupat.
Meskipun lemang dihidangkan sebagai menu kudapan bukan sebagai menu utama, namun lemang ini akan terasa nikmat bila ditemani tapai ketan hitam. Bahkan ada yang memakannya bersama rendang. 

Tradisi Pacu Jawi di Minangkabau, Sumatera Barat



"Pacu jawi ini merupakan tradisi masyarakat Kabupaten Tanah Datar yang sudah turun temurun, serta sebagai bentuk rasa syukur para petani atas hasil panenan padi mereka," ujarnya menerangkan makna dari kegiatan pacu jawi.   
Lanjut Darsono, setiap tahunnya alek nagari (pesta rakyat) pacu jawi tersebut diselenggarakan selama empat minggu berturut-turut serta dilangsungkan di empat kecamatan di Kabupaten Tanah Datar, yaitu di kecamatan Pariangan, Kecamatan Rambatan, Kecamatan Limau Kaum dan Kecamatan Sungai Tarab secara bergiliran. Dan di penghujung tahun 2012 ini Kecamatan Sungai Tarab mendapat giliran untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Di Kecamatan Sungai Tarab dipaparkan oleh Darsono, kegiatan pacu jawi diadakan pada tanggal 10, 17, 24 November dan 1 Desember. "Jadi hari ini merupakan hari terakhir atau hari penutupan pacu jawi," imbuh Darsono.
Dalam tradisi pacu jawi sendiri kata Darsono, selain untuk mengisi waktu luang antara musim panen dengan musim tanam, pacu jawi juga digunakan ajang hiburan bagi masyarakat sekitar dan sebagai ajang silahturahmi di antara para petani karena peserta pacu jawi jumlahnya mencapai ratusan.  "Untuk kegiatan pacu jawi kali ini saja ada lebih dari 400 jawi yang ikut ambil bagian," jelas Darsono.


(Peserta pacu jawi (joki) tengah memacu sapinya di arena lintasan.  Sapi yang mampu berlari dengan lurus dan sampai dengan cepat di garis finish adalah pemenangnya.)

(Tak hanya orang dewasa saja yang menyaksikan pacu jawi , anak-anak  pun tak mau ketinggalan menyaksikan tradisi yang telah berusia ratusan tahun tersbut.)
Jika dikatakan sebagai hiburan bagi masyarakat sekitar itu jelas. Hal ini bisa terlihat dari semaraknya kegiatan pacu jawi, di mana anak-anak hingga orang tua rela berbondong-bondong datang ke lokasi pertandingan agar bisa menyaksikan secara langsung dari dekat tradisi yang sudah turun-temurun beberapa generasi itu. Bahkan yang menarik lagi dari tradisi pacu jawi adalah sapi-sapi yang akan ikut bertanding ternyata juga memiliki kepopuleran. Tak sedikit pengunjung yang menyempatkan diri untuk berfoto bareng dengan para sapi-sapi peserta sebelum pertandingan dimulai. Apalagi sapi-sapi para peserta biasanya dihias dengan pernak-pernik hiasan yang mengandung unsur warna-warna cerah agar bisa tampil cantik dan menarik perhatian banyak pengunjung sebelum turun ke lintasan.

(Sebelum turun ke lintasan, sejumlah sapi tampak dipercantik dengan berbagai hiasan dan ornamen. Sapi-sapi yang dihias itupun kerap menjadi obyek untuk berfoto bersama.)
Tak hanya sampai di situ, kemeriahan tradisi pacu jawi tidak hanya terjadi di areal lintasan saat kegiatan berlangsung, tetapi kemeriahan juga tetap terjadi di pinggir lintasan. Masyarakat sekitar yang tidak turun ke lintasan juga turut meramaikan dengan tarian dan nyanyian tradisional khas masyarakat Tanah Datar. Kemeriahan musik dan tarian tradisional seolah menjadi irama pengiring dan penyemangat bagi para joki yang tengah memacu sapi-sapinya.
(Kemeriahan tak hanya terjadi di arena lintasan pacu jawi, tetapi di pinggir lintasan kemeriahan  masyarakat sekitar  yang meramaikan dengan nyanyian dan tarian tradisional seolah turut menjadi penyemangat bagi para joki yang berlaga.)
Yang Paling Lurus dan Tercepat adalah Pemenangnya 

(Sapi yang mampu berlari dengan lurus dan sampai dengan cepat di garis finish adalah pemenangnya.)
Saya dan rombongan yang baru pertama kali menyaksikan secara langsung tradisi pacu jawi pun penasaran akan aturan main pacu jawi. “Bagaimana cara menilai dan menentukan pemenangnya, apalagi dalam pacu jawi masing-masing peserta berlaga sendiri di lintasan tanpa lawan,” batin saya dalam hati.
Seolah bisa menebak apa yang ada dalam benak saya serta tidak mau membuat saya dan rombongan penasaran, Darsono pun menjelaskan aturan permainan pacu jawi. Katanya penilaian siapa yang menang dan kalah bukan pada seberapa cepat sapi bisa mencapai garis finish, tetapi penilaian utama dari pacu jawi adalah seberapa lurus sapi mampu berlari di lintasan hingga menyentuh garis finish. "Kalau dalam pacu jawi ini yang dinilai adalah lurus tidaknya sapi berlari dalam lintasan," urainya.
Untuk itu, agar sapi para peserta bisa menjadi jawara, maka seorang joki sapi haruslah memiliki keterampilan dan tekhnik serta jam terbang dalam mengendalikan sapi. Terlebih dalam tradisi pacu jawi seorang joki harus mengendalikan dua sapi sekaligus, sehingga keahlian menjadi hal yang tidak bisa ditawar. Pada saat pertandingan tengah berlangsung, seorang peserta haruslah mengendalikan sepasang sapi yang diapit oleh peralatan pembajak sambil memegang tali dan menggigit ekor sapi. Bahkan dari berbagai informasi yang saya dapat, ke dua ekor sapi haruslah digigit ketika tengah mengendalikan sapi, karena semakit kuat gigitan sang joki ke ekor sapi maka sapi akan semakin cepat berlari.

(Para joki tengah menyaksikan lawan-lawannya berlaga di arena lintasan.)


(Berbagai ekspresi wajah joki tampak  berbeda usai turun dari lintasan  pacu jawi.)

Selain itu juga katanya, jika bisa memenangkan pertandingan ini hadiah bukanlah tujuan utama karena hadiah yang diberikan oleh panitia tidaklah seberapa, namun jika menjadi pemenang secara otomatis harga sapi yang menjadi jawara memiliki nilai jual yang berlipat dibanding harga sapi biasa. "Sapi yang menjadi pemenang harganya bisa di atas Rp 25 juta," katanya.
Untuk itu sambung Darsono, agar sapi-sapi yang diperlombakan bisa menang tentunya harus dalam kondisi yang prima. Untuk menciptakan kondisi yang fit dan prima tentunya ada perlakuan khusus terhadap para sapi. “Biasanya sebelum bertanding para pemilik sapi memberikan makanan ataupun minuman yang berkhasiat agar sapi bisa tampil maksimal,” urainya.(*)





Sabtu, 06 September 2014

Lembah Harau



Lembah Harau, tempat nan alami yang masih berdiri kokoh di daerah Harau, Kabupaten 50 Kota. Disini terdapat air terjun yang dinamakan Sarasah satu sampai tiga. Juga terdapat Home Stay bagi anda yang berminat untuk menikmati hari lebih lama disini. Selain itu lokasi ini juga dilengkapi dengan Medan Nan Bapaneh (tempat kemping terbuka) untuk melaksanakan perkemahan bersama.
Mari nikmati sensasi karupuak kuah disini, dan sejuknya udara yang menghiasi.

Batang Tabik Swimming



Pemandian Batang Tabit, merupakan objek wisata yang ramai di kunjungi oleh masyarakat Sumatera Barat. Alasannya, selain berlokasi di jalan lintas Sumatera, pemandian ini airnya juga berasal dari pegunungan asli, yakni Gunung Sago. Tarif yang dikenakan untuk pengunjung juga murah, sesuai untuk kantong masyarakat biasa. Biasanya rame dikunjungi pada saat Balimau atau hari libur lainnya.
Disini terdapat tiga jenis Kolam, pertama Kolam anak-anak, kolam remaja dan terakhir kolam dewasa. Dijamin gak bakal cukup sekali berkunjung kesini

Wisata Alam Nan Indah




Ngalau Indah, inilah lokasi wisata yang sering dikumjungi di daerahku, Kota Payakumbuh. Anak-anak muda biasanya sering mengunjungi lokasi wisata ini, selain itu dilokasi ini juga sering diadakan atraksi gokart dan pensi, juga penampilan band-band pada hari minggu.

Disekeliling lokasi ini juga terdapat kolam pemandian, water boom, batu pijat rematik dan arena bermain anak lainnya. Mari berkunjung ke daerahku.